Minggu, 12 Februari 2012

SELAYANG PANDANG

SELAYANG PANDANG KERATON SURAKARTA
MANGKUNEGARA DAN MUSEUM SANGIRAN

(Oleh: Drs. Iyus Jayusman, M.Pd)

A.    Pengantar
Berbicara mengenai keberadaan keraton Surakarta, secara historis tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan kerajaan Mataram yang pernah berdiri pada masa sebelumnya. Dengan singkat dapat dikatakan, bahwa keraton Surakarta merupakan kelanjutan dari kedinastian Mataram Islam yang pernah berjaya di bawah kepemimpinan Sultan Agung.
            Keraton Surakarta, atau lengkapnya disebut Keraton Surakarta Hadiningrat, didirikan oleh Susuhunan Pakubuwono II (PB II) tahun 1944. Berdasar kepada bukti-bukti yang ada, keraton Surakarta didirikan sebagai pengganti istana Kartasura yang hancur akibat adanya pemberontakan etnik Cina tahun 1743 di Tanah Jawa.
            Keraton Surakarta sampai saat ini masih berdiri dengan demikian megahnya. Hal ini merupakan suatu bukti bahwa Keraton Surakarta (KS) dibangun dengan menampilkan kemampuan seni arsitektur yang sangat tinggi. Berdasar kepada sumber yang ada, bahwa salah seorang arsitek dari KS adalah pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I. Beliau dari kesultanan Yogjakarta.
            Jadi tidaklah begitu mengherankan, kalau seni arsitek keraton Yogyakarta dan KS dalam beberapa hal menunjukan kesamaan, karena keduanya dibangun oleh arsitek yang sama. Untuk lebih jelasnya, mengenai makna atau fungsi ruangan, koridor dan lain-lain yang ada di dalam KS akan secara mendetail  dijelaskan oleh pemandu dari pihak keraton.
            KS mewariskan khasanah seni budaya yang tidak ternilai harganya. Dalam seni budaya tersebut terkandung makna philosofis tingkat tinggi yang perlu kita apresiasi secara mendalam untuk diaplikasikan dalam kehidupan kondisi kekinian yang semakin chaos (kacau). Tentu saja dengan melalui kajian terhadap nilai kandungan philosofis yang ada dalam nilai-nilai budaya di lingkungan Keraton Surakarta, kita diharapkan akan lebih mampu masa depan yang lebih baik dengan penuh kearifan, dan terhindar dari ketakaburan.
            Dari sekian banyak ritual yang ada di KS, sedikitnya atau tiga diantaranya yaitu ritual upacara adat yang cukup terkenal dan menjadi pusat perhatian banyak orang, yaitu upacara GAREBEG, SEKATEN, dan  MALAM SATU SURO.
            Mengenai tujuan serta makna philosofis dari upacara ritual tersebut secara lebih detail akan diurai oleh pemandu keraton. Yang jelas, upacara Garebeg dan Sekaten secara rutin biasa dilaksanakan tiap bulan Maulud.


B. Lahir  Perkembangan Keraton Surakarta dan Mangkunegara

Seperti sudah disinggung sekilas di atas, bahwa keberadaan KS ada kaitan historis dengan kerajaan Mataram (KM) yang sudah berdiri pada masa sebelumnya. Untuk lebih jelasnya perhatikan deskripsi di bawah.
Berdasar kepada bukti yang ada, baik itu bukti berupa artefac, mentifac, sociofac,  psicofac, religiofac dan barang kali ecofac, menunjukan bahwa istana atau keraton terakhir ke- dinastian Mataram didirikan di desa Sala (Solo). Atau tepatnya di area sebuah pelabuhan kecil di tepi barat bantaran Bengawan Solo. Dari bukti letak geografis atau keberadaan istana kerajaan Mataram tersebut, dapat diinterpretasi, bahwa KM setidaknya sebuah kerajaan yang terutama berbasiskan agraris (pertanian) dan dengan tidak mengabaikan sektor bahari (laut) sebagai sarana lalu lintas perdagangan.
            Sungguh sangat menarik, dan entah apa alasannya, mungkin ada pertimbangan politis, setelah istana KM selesai dibangun, nama desa (Sala/Solo) diubah menjadi Surakarta Hadiningrat. Dan sampai sa’at ini lokasi bekas KM dikenal dengan nama Surakarta.
            Memasuki pertengahan abad ke-18, KM mengalami instabilitas politik dan keamanan, barang kali ini sebagai dampak gangguan baik yang datang dari luar (eksternal) maupun dalam (internal). Gangguan dari luar, diantaranya yaitu semakin menguatnya posisi VOC (Kongsi Dagang Belanda) mengintervensi dan menguasai  sektor ekonomi-politik dari wilayah kekuasaan KM. Sedangkan gngguan dari dalam diantaranya perebutan kekuasaan  diantara petinggi elit politik di KM, di samping terjadinya pemberontakan yang dikorbankan oleh Trunajaya, Mas Said dan yang lainnya. Nama yang disebut terakhir (Mas Said), dikemudian hari ia akan menjadi penguasa diwilayah Mangkunegara yang statuta politiknya di bawah KS.
            Sebagai upaya penyelesaian intrik politik diwilayah kerajaan, barangkali, akhirnya PB II melakukan kolaborasi politik dengan  VOC yang tentu saja dengan persyaratan dan imbalan yang memberatkan pihak KM. dan perlu dipahami, ini merupakan titik awal kehancuran KM dalam kaitan dengan perluasan penguasaan wilayah ekonomi VOC.
            Konon, istana atau Kraton Surakarta ini, menjadi saksi bisu prahara penyerahan kedaulatan KM oleh PB II kepada VOC tahun 1749. Sungguh sangat tragis keadaan politik KM ketika itu. Barangkali ini  sebagai bahan renungan, kontemplatif untuk kita yang hidup dalam kondisi kekinian.
            Nasib KM lebih teragis lagi, yaitu pasca perjanjian Gyanti tahun 1755. Berdasar isi   perjanjian Gyanti, bahwa wilayah kekuasaan  KM dipecah menjadi dua,  yakni menjadi wilayah kekuasaan Kesunanan dan wilayah kekuasaan Kesultanan. Wilayah kesunanan pusat pemerintahannya terkonsentrasi di Surakarta yaitu Kesunanan Surakarta yang dipimpin oleh seorang Sunan, dan wilayah kesultanan pusat pemerintahannya terkonsentrasi di Yogyakarta yaitu kesultanan Yogyakarta yang dipimpin oleh seorang Sultan.
            Setelah KM terpecah menjadi dua wilayah kekuasaan, yakni kesultanan dan kesunanan, bahkan ada wilayah kekuasaan yang lainnya, yaitu Mangkunegara yang secara politis ada di bawah kekuasaan Kesunanan Surakarta. Kondisi dis-integrasinya KM semakin memberi peluang yang lebih leluasa kepada VOC untuk menguasai tanah Jawa. Namun, kendatipun demikian wilayah Jawa pedalaman relative aman dari jangkauan VOC, dengan alasan, karena aktivitas perniagaan orang-orang VOC lebih terkonsentrasi di pesisir pantai. Sedangkan suplai barang dagangan ke wilayah pantai yang akan dibeli oleh VOC dilakukan oleh para penguasa lokal yang berdomisili di wilayah pedalaman. Dan diantara keduanya ada pelaku dagang perantara yang posisinya dikendalikan oleh orang-orang China.
            Dalam perkembangan selanjutnya, setelah PB II wafat, kendali kekuasaan politik di KS dijalankan oleh  PB III. Sungguh sangat disayangkan, pasca meninggalnya PB II, antara Hamengkubuwono I dari Kesultanan Yogyakarta, PB III dari Kesunanan Surakarta, dan Mangkunegara tidak terjalin hubungan yang  kondusif. Kondisi tersebut  dilatarbelakangi oleh harapan dan keinginan diantara mereka sama, yaitu ingin menguasai kembali Jawa secara utuh seperti di jaman KM. Demi kekuasaan, diantara keturunan mereka pernah ditempuh melalui jalinan perkawinan diantara putra atau putri ketiga penguasa. Hasilnya absurditas.
            Memasuki awal abad ke-XIX, di Hindia Belanda terjadi pergeseran dan peralihan kekuasaan dari VOC ke pemerintah Hindia Belanda. Kendati telah terjadi pergeseran peta politik, dalam realitasnya peta politik di Jawa tetap bertahan seperti pada masa-masa sebelumnya. Bahkan pada tahun 1825 muncul perjuangan Pangeran Dipanegara menentang kolonial Belanda dan menentang perubahan-perubahan yang terjadi dilingkungan keraton yang dipandang dan dianggap oleh Pangeran Dipanegara telah terkontaminasi oleh kehidupa kaum kafir    

C.    Manusia Purba dari Saringan
         
Sangiran adalah suatu tempat atau lokasi di mana banyak ditemukan tulang belulang (fosil) manusia purba dari jawa atau disebut Meganthropus Paleojavanicus. Berdasar kepada banyaknya ditemukan fosil manusia purba, maka  di Sangiran didirikan museum yang akan kita kunjungi dalam rangka  kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL). Museum Sangiran ini special menampung fosil manusia purba yang banyak ditemukan di daerah sekitar.

Diprediksi, bahwa Meganthropus Paleojavanicus (MP) ini sudah ada di Sangiran sejak jaman batu tua (paleolithicum). Dan diperkirakan, mereka pernah hidup atau keberadaannya 2 juta sampai 1 juta tahun yang lalu. Ciri produk budaya hasil cipta dan karsa dari manusia purba jenis MP ini sangat sederhana, dan produk budayanya berusia paling tua bila dibandingkan dengan produk-produk budaya yang pernah ditemukan khususnya di tanah Jawa.

Diperkirakan, keberadaan serta kemunculan manusia purba jenis MP ini, yaitu pada masa kala Pletosen awal atau ketika terjadinya peristiwa peng-es-an di muka bumi ini.

Sisa fosil MP yang diketemukan di Sangiran ini dalam keadaan tidak lengkap, artinya ada beberapa bagian organ tubuh yang tidak ada. Namun kendatipun demikian, hasil rekonstruksi sisa posill yang ada dapat diketahui,  bahwa MP bentuk tubuhnya tinggi dan besar, otot rahang kuat, tetapi tidak memiliki dagu yang jelas dan pada bagian tertentu terdapat penonjolan seperti kening, kepala bagian belakang dan tulang pipi.

Perlu pula ditambahkan, bahwa pada masa kala plestosen awal ini hidup juga Pithecanthropus Mojoketensis (PM) yang sampai saat ini belum diketahui bagaimana hubungannya dengan MP.

Perlu pula diketahui, pada masa kala Plestosen tengah, hidup manusia Pithecanthropus Erectus dan Pithecanthropus Soloensis. Untuk yang disebut terakhir fosilnya ditemukan disekitar lembah bengawan Solo.


Drs. Iyus Jayusman, M.Pd.
Alumni Jurusan Sejarah UNPAD tahun 1987
Pada tahun 1988 diangkat menjadi dosen tetap di Prodi Pendidikan Sejarah UNSIL
Dewasa ini membina mata kuliah:
-          Pengantar Ilmu Sejarah
-          Metodologi Penelitian Sejarah
-          Historiografi Indonesia
-          Sejarah Kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur
-          Logika dan Filsafat Sejarah
-          Sejarah Demokrasi Liberal dan Terpimpin.
            

SELAYANG PANDANG

SELAYANG PANDANG KERATON SURAKARTA
MANGKUNEGARA DAN MUSEUM SANGIRAN

(Oleh: Drs. Iyus Jayusman, M.Pd)

A.    Pengantar
Berbicara mengenai keberadaan keraton Surakarta, secara historis tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan kerajaan Mataram yang pernah berdiri pada masa sebelumnya. Dengan singkat dapat dikatakan, bahwa keraton Surakarta merupakan kelanjutan dari kedinastian Mataram Islam yang pernah berjaya di bawah kepemimpinan Sultan Agung.
            Keraton Surakarta, atau lengkapnya disebut Keraton Surakarta Hadiningrat, didirikan oleh Susuhunan Pakubuwono II (PB II) tahun 1944. Berdasar kepada bukti-bukti yang ada, keraton Surakarta didirikan sebagai pengganti istana Kartasura yang hancur akibat adanya pemberontakan etnik Cina tahun 1743 di Tanah Jawa.
            Keraton Surakarta sampai saat ini masih berdiri dengan demikian megahnya. Hal ini merupakan suatu bukti bahwa Keraton Surakarta (KS) dibangun dengan menampilkan kemampuan seni arsitektur yang sangat tinggi. Berdasar kepada sumber yang ada, bahwa salah seorang arsitek dari KS adalah pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I. Beliau dari kesultanan Yogjakarta.
            Jadi tidaklah begitu mengherankan, kalau seni arsitek keraton Yogyakarta dan KS dalam beberapa hal menunjukan kesamaan, karena keduanya dibangun oleh arsitek yang sama. Untuk lebih jelasnya, mengenai makna atau fungsi ruangan, koridor dan lain-lain yang ada di dalam KS akan secara mendetail  dijelaskan oleh pemandu dari pihak keraton.
            KS mewariskan khasanah seni budaya yang tidak ternilai harganya. Dalam seni budaya tersebut terkandung makna philosofis tingkat tinggi yang perlu kita apresiasi secara mendalam untuk diaplikasikan dalam kehidupan kondisi kekinian yang semakin chaos (kacau). Tentu saja dengan melalui kajian terhadap nilai kandungan philosofis yang ada dalam nilai-nilai budaya di lingkungan Keraton Surakarta, kita diharapkan akan lebih mampu masa depan yang lebih baik dengan penuh kearifan, dan terhindar dari ketakaburan.
            Dari sekian banyak ritual yang ada di KS, sedikitnya atau tiga diantaranya yaitu ritual upacara adat yang cukup terkenal dan menjadi pusat perhatian banyak orang, yaitu upacara GAREBEG, SEKATEN, dan  MALAM SATU SURO.
            Mengenai tujuan serta makna philosofis dari upacara ritual tersebut secara lebih detail akan diurai oleh pemandu keraton. Yang jelas, upacara Garebeg dan Sekaten secara rutin biasa dilaksanakan tiap bulan Maulud.

B.     B. Lahir  Perkembangan Keraton Surakarta dan Mangkunegara

Seperti sudah disinggung sekilas di atas, bahwa keberadaan KS ada kaitan historis dengan kerajaan Mataram (KM) yang sudah berdiri pada masa sebelumnya. Untuk lebih jelasnya perhatikan deskripsi di bawah.
Berdasar kepada bukti yang ada, baik itu bukti berupa artefac, mentifac, sociofac,  psicofac, religiofac dan barang kali ecofac, menunjukan bahwa istana atau keraton terakhir ke- dinastian Mataram didirikan di desa Sala (Solo). Atau tepatnya di area sebuah pelabuhan kecil di tepi barat bantaran Bengawan Solo. Dari bukti letak geografis atau keberadaan istana kerajaan Mataram tersebut, dapat diinterpretasi, bahwa KM setidaknya sebuah kerajaan yang terutama berbasiskan agraris (pertanian) dan dengan tidak mengabaikan sektor bahari (laut) sebagai sarana lalu lintas perdagangan.
            Sungguh sangat menarik, dan entah apa alasannya, mungkin ada pertimbangan politis, setelah istana KM selesai dibangun, nama desa (Sala/Solo) diubah menjadi Surakarta Hadiningrat. Dan sampai sa’at ini lokasi bekas KM dikenal dengan nama Surakarta.
            Memasuki pertengahan abad ke-18, KM mengalami instabilitas politik dan keamanan, barang kali ini sebagai dampak gangguan baik yang datang dari luar (eksternal) maupun dalam (internal). Gangguan dari luar, diantaranya yaitu semakin menguatnya posisi VOC (Kongsi Dagang Belanda) mengintervensi dan menguasai  sektor ekonomi-politik dari wilayah kekuasaan KM. Sedangkan gngguan dari dalam diantaranya perebutan kekuasaan  diantara petinggi elit politik di KM, di samping terjadinya pemberontakan yang dikorbankan oleh Trunajaya, Mas Said dan yang lainnya. Nama yang disebut terakhir (Mas Said), dikemudian hari ia akan menjadi penguasa diwilayah Mangkunegara yang statuta politiknya di bawah KS.
            Sebagai upaya penyelesaian intrik politik diwilayah kerajaan, barangkali, akhirnya PB II melakukan kolaborasi politik dengan  VOC yang tentu saja dengan persyaratan dan imbalan yang memberatkan pihak KM. dan perlu dipahami, ini merupakan titik awal kehancuran KM dalam kaitan dengan perluasan penguasaan wilayah ekonomi VOC.
            Konon, istana atau Kraton Surakarta ini, menjadi saksi bisu prahara penyerahan kedaulatan KM oleh PB II kepada VOC tahun 1749. Sungguh sangat tragis keadaan politik KM ketika itu. Barangkali ini  sebagai bahan renungan, kontemplatif untuk kita yang hidup dalam kondisi kekinian.
            Nasib KM lebih teragis lagi, yaitu pasca perjanjian Gyanti tahun 1755. Berdasar isi   perjanjian Gyanti, bahwa wilayah kekuasaan  KM dipecah menjadi dua,  yakni menjadi wilayah kekuasaan Kesunanan dan wilayah kekuasaan Kesultanan. Wilayah kesunanan pusat pemerintahannya terkonsentrasi di Surakarta yaitu Kesunanan Surakarta yang dipimpin oleh seorang Sunan, dan wilayah kesultanan pusat pemerintahannya terkonsentrasi di Yogyakarta yaitu kesultanan Yogyakarta yang dipimpin oleh seorang Sultan.
            Setelah KM terpecah menjadi dua wilayah kekuasaan, yakni kesultanan dan kesunanan, bahkan ada wilayah kekuasaan yang lainnya, yaitu Mangkunegara yang secara politis ada di bawah kekuasaan Kesunanan Surakarta. Kondisi dis-integrasinya KM semakin memberi peluang yang lebih leluasa kepada VOC untuk menguasai tanah Jawa. Namun, kendatipun demikian wilayah Jawa pedalaman relative aman dari jangkauan VOC, dengan alasan, karena aktivitas perniagaan orang-orang VOC lebih terkonsentrasi di pesisir pantai. Sedangkan suplai barang dagangan ke wilayah pantai yang akan dibeli oleh VOC dilakukan oleh para penguasa lokal yang berdomisili di wilayah pedalaman. Dan diantara keduanya ada pelaku dagang perantara yang posisinya dikendalikan oleh orang-orang China.
            Dalam perkembangan selanjutnya, setelah PB II wafat, kendali kekuasaan politik di KS dijalankan oleh  PB III. Sungguh sangat disayangkan, pasca meninggalnya PB II, antara Hamengkubuwono I dari Kesultanan Yogyakarta, PB III dari Kesunanan Surakarta, dan Mangkunegara tidak terjalin hubungan yang  kondusif. Kondisi tersebut  dilatarbelakangi oleh harapan dan keinginan diantara mereka sama, yaitu ingin menguasai kembali Jawa secara utuh seperti di jaman KM. Demi kekuasaan, diantara keturunan mereka pernah ditempuh melalui jalinan perkawinan diantara putra atau putri ketiga penguasa. Hasilnya absurditas.
            Memasuki awal abad ke-XIX, di Hindia Belanda terjadi pergeseran dan peralihan kekuasaan dari VOC ke pemerintah Hindia Belanda. Kendati telah terjadi pergeseran peta politik, dalam realitasnya peta politik di Jawa tetap bertahan seperti pada masa-masa sebelumnya. Bahkan pada tahun 1825 muncul perjuangan Pangeran Dipanegara menentang kolonial Belanda dan menentang perubahan-perubahan yang terjadi dilingkungan keraton yang dipandang dan dianggap oleh Pangeran Dipanegara telah terkontaminasi oleh kehidupa kaum kafir    


C.     C. Manusia Purba dari Sangiran
.
Sangiran adalah suatu tempat atau lokasi di mana banyak ditemukan tulang belulang (fosil) manusia purba dari jawa atau disebut Meganthropus Paleojavanicus. Berdasar kepada banyaknya ditemukan fosil manusia purba, maka  di Sangiran didirikan museum yang akan kita kunjungi dalam rangka  kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL). Museum Sangiran ini special menampung fosil manusia purba yang banyak ditemukan di daerah sekitar.

Diprediksi, bahwa Meganthropus Paleojavanicus (MP) ini sudah ada di Sangiran sejak jaman batu tua (paleolithicum). Dan diperkirakan, mereka pernah hidup atau keberadaannya 2 juta sampai 1 juta tahun yang lalu. Ciri produk budaya hasil cipta dan karsa dari manusia purba jenis MP ini sangat sederhana, dan produk budayanya berusia paling tua bila dibandingkan dengan produk-produk budaya yang pernah ditemukan khususnya di tanah Jawa.

Diperkirakan, keberadaan serta kemunculan manusia purba jenis MP ini, yaitu pada masa kala Pletosen awal atau ketika terjadinya peristiwa peng-es-an di muka bumi ini.

Sisa fosil MP yang diketemukan di Sangiran ini dalam keadaan tidak lengkap, artinya ada beberapa bagian organ tubuh yang tidak ada. Namun kendatipun demikian, hasil rekonstruksi sisa posill yang ada dapat diketahui,  bahwa MP bentuk tubuhnya tinggi dan besar, otot rahang kuat, tetapi tidak memiliki dagu yang jelas dan pada bagian tertentu terdapat penonjolan seperti kening, kepala bagian belakang dan tulang pipi.

Perlu pula ditambahkan, bahwa pada masa kala plestosen awal ini hidup juga Pithecanthropus Mojoketensis (PM) yang sampai saat ini belum diketahui bagaimana hubungannya dengan MP.

Perlu pula diketahui, pada masa kala Plestosen tengah, hidup manusia Pithecanthropus Erectus dan Pithecanthropus Soloensis. Untuk yang disebut terakhir fosilnya ditemukan disekitar lembah bengawan Solo.


Drs. Iyus Jayusman, M.Pd.
Alumni Jurusan Sejarah UNPAD tahun 1987
Pada tahun 1988 diangkat menjadi dosen tetap di Prodi Pendidikan Sejarah UNSIL
Dewasa ini membina mata kuliah:
-          Pengantar Ilmu Sejarah
-          Metodologi Penelitian Sejarah
-          Historiografi Indonesia
-          Sejarah Kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur
-          Logika dan Filsafat Sejarah
-          Sejarah Demokrasi Liberal dan Terpimpin.
            

Selasa, 20 September 2011


LOGIKA
&
FILSAFAT SEJARAH


Oleh : Iyus Jayusman, Drs, M.Pd.


APA ITU LOGIKA

        Kata logika berasal dari bahasa Yunani yaitu logos yang berarti  kata atau fikiran yang benar. Jadi kalau ditinjau dari segi logatnya, maka ilmu logika berarti ilmu berkata benar atau ilmu berfikir benar.
        Apakah logika sebagai ilmu pengetahuan? 
    Sebagai kumpulan dari kaidah-kaidah yang memberikan jalan (sistem) berfikir yang teratur, maka logika juga merupakan suatu ilmu pengetahuan.

                            
BAGAIMANA KERJA LOGIKA?

        Tugas kerja ilmu logika adalah memberikan penilaian benar  atau salah.
        Logika memberikan suatu ukuran (norma) yakni suatu anggapan tentang benar  dan salah. Dengan demikian, logika bersifat normatif.
        Pekerjaan logika menentukan peraturan-peraturan berfiikir  yang benar itu.
        Dengan demikian, logika adalah pengetahuan filsafat (philosiphy) atau art of thinking


DEFINISI LOGIKA

        Setelah meninjau ciri-ciri cara kerja logika tersebu di atas, maka dapat dirumuskan definisi dari ilmu logika:
1.   Logika ialah ilmu pengetahuan yang mengatur penelitian hukum-hukum akal manusia sehingga menyebabkan fikirannya dapat mencari kebenaran.
2.   Logika ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari aturan-aturan dan cara-cara berfikir  yang dapat menyampaikan manusia kepada kebenaran.
3.   Logika ialah ilmu pengetahuan yg mempelajari pekerjaan akal dipandang dari jurusan benar & salah. 


LOGIKA NATURALIS

        Sejak kapan manusia berfikir dengan memakai logika?
-    Umur logika sebenarnya sama tuanya dengan umur manusia, artinya sejak manusia berfikir sebenarnya logika itu telah ada, hanya yang mereka pakai adalah logika naturalis.
-         Apa itu logika naturalis, yaitu ketika manusia berfikir berdasar kodrat dan fitrah manusia saja.
-         Contoh berfikir dgn logika naturalis: misalnya matahari dan saya adalah berbeda, saya berjalan tidak sama dengan saya duduk. Berfikir sederhana adalah ciri berfikir logika naturalis.


LOGIKA ARTIFICIALIS

·        Contoh keberadaan dari logika artificialis:
-         Misalnya ada dua berita yang bertentangan mutlak, sedang kedua-duanya menganggap dirinya benar. Dapatkah berita tersebut keduanya dibenarkan?
-         Untuk mengatasi masalah yang dilematis tersebut di atas, maka dirumuskan dan digunakan logika artificialis.
-         Aristoteles adalah filusuf pertama yang merumuskan logika artificialis dalam bukunya yang berjudul Organon yang berarti instrumen (alat).


LOGIKA FORMAL & MATERIAL

        Logika  Artificialis dibedakan menjadi dua sbb:
1.   Logika Formal yaitu mempelajari asas-asas, aturan-aturan atau hukum-hukum berfikir  yang harus ditaati, agar orang dapat berfikir dengan benar dan mencapai kebenaran.
2.   Logika Material mempelajari langsung pekerjaan akal, serta menilai hasil-hasil logika formal dan mengujinya dengan  kenyataan-kenyataan praktis yang sesungguhnya. Apakah hasil logika formal itu sungguh sesuai dengan isi (materi) kenyataan yang sebenarnya?

        Logika material mempelajari sumber-sumber dan asalnya pengetahuan, alat-alat pengetahuan, proses terjadinya pengetahuan, dan akhirnya merumuskan metode ilmu pengetahuan. Dengan demikian, logika material inilah yang menjadi sumber  yakni yang menimbulkan filsafat mengenal dan filsafat ilmu pengetahuan.
        Logika Formal ialah ilmu yang mengandung kumpulan kaidah-kaidah cara berfikir untuk mencapai kebenaran


PEMBAHASAN LOGIKA

        Logika Formal dibagi dalam tiga pasal sbb:
  1. Pasal pengertian
  2. Pasal keputusan
  3. Pasal pemikiran
       Ketiga pasal tersebut akan menunjukkan hubungan terkait dengan persoalan ini:
      “Saya tidak dapat membeli buku sebab mahal”
       Dalam kalimat di atas terkandung beberapa unsur dalam fikiran kita.


PEMECAHAN MASALAH

“Saya tidak dapat membeli buku sebab mahal”
Pertama: Kita menangkap kenyataan (realitas) yang  
                 disebut buku.
Kedua    : Kita menangkap hubungan antara harga dan
                 buku yakni mahal.
Ketiga    : Kita menangkap kenyataan bahwa anda tidak 
                 dapat membeli buku karena mahal.

Penjelasan:
1.  Buku, mahal, dan membeli adalah pengertian
Perlu dipahami, pengertian merupakan isi pokok dari persoalan logika.
2. Buku ini mahal atau saya tidak membeli buku, ini merupakan keputusan.
3. Orang yang tidak punya uang tidak dapat membeli buku, ini merupakan pemikiran.
    Pemikiran adalah bila pengertian-pengertian itu disusun begitu rupa, sehingga merupakan suatu pertimbangan (discourse) dalam fikiran kita.


KESIMPULAN

        Seluruh pembahasan logika formal mencakup tiga pasal sbb:
  1. Pengertian (idea atau konsep).
  2. Keputusan (proposition).
  3. Pemikiran (discourse).
      Dari tiga persoalan di atas yang terpenting ialah keputusan. Pengertian dan pemikiran hanyalah merupakan saat atau moment dalam fikiran kita ke arah keputusan. Sedang dalam keputusan, fikiran (intelek) kita terhenti


SOAL-SOAL

        1. Jelaskan konsep logika berdasar  arti logatnya.
        2.Jelaskan pengertian  logika artificialis
        3.Jelaskan perbedaan antara logika formal dengan 
      logika material.
        4.Jelaskan hubungan antara pengertian, keputusan 
      dengan pemikiran dalam suatu cara berpikir.
        5.Dari hubungan tersebut di atas (pengertian,
           keputusan, dan pemikiran) manakah yang 
           terpenting, dan berikan alasannya. 


APA ITU FILSAFAT

    Untuk mengerti filsafat, maka harus meninjaunya sedikitnya dari dari tiga segi sbb:

  1. Arti Logat
      Dilihat dari segi logatnya, maka perkataan Filsafat itu berasal dari bahasa Arab “falsafah” yang berasal dari perkataan Yunani “philosophia”.  Philos bararti suka atau cinta, dan sophia berarti kebijaksanaan. Jadi philosophia artinya suka pada kebijaksanaan. Artinya setiap orang yg berfilsafat akan bijaksana.

2. Arti Praktis
      Dilihat dari segi pengertian praktis maka filsafat berarti alam berfikir atau alam fikiran. Berfilsafat  artinya berfikir. Dengan demikian, maka berfilsafat adalah berfikir secara mendalam dan dengan sungguh-sungguh.

3. Perbedaan dari ilmu-ilmu lain
    a. Ilmu-ilmu selain filsafat (ilmu-ilmu vak) membatasi
        kajiannya pada satu bagian saja dari alam maujud ini. 
        Contoh: Ilmu Geografi hanya menyelidiki soal-soal yang
        langsung menjadi kajiannya saja (sungai-sungai,
        daratan, lautan, kota-kota, jalan raya, penduduk dll).

Ilmu Filsafat tugasnya menyelidiki seluruh kenyataan yang dibahas oleh ilmu-ilmu vak itu, dan menyelidiki bagaimana hubungannya kenyataan itu satu dengan yang lain.
   Dengan kata lain, ilmu filsafat memandang alam ini sebagai suatu kesatuan yang belum dipecah-pecah. Ilmu filsafat membahasnya secara keseluruhan yang bersangkutan satu dengan yang lain.
    Catatan:
    Ilmu-ilmu vak membahas tentang sebab dan akibat dari suatu kejadian. Sedang filsafat disamping membahas sebab dan akibat, juga membahas hakikat dari suatu gejala atau kejadian 


DEFINISI FILSAFAT

        Beberapa definisi filsafat yang dibuat oleh filosuf-filosuf terkenal Barat dan Timur sbb:
  1. Plato (427 s.M-348 s.M)
      Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang  asli.

  1. Aristoteles (382 s.M-322 s.M)
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.

3. Al Farabi (870-950)
      Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakekatnya yang   sebenarnya.

      4. Descartes (1590-1650)
      Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan.


FILSAFAT SEJARAH

        Munculnya Filsafat Sejarah dilatarbelakangi oleh:
1. Kecenderungan manusia dikenal sebagai “hewan sejarah”(pelaku, pembuat, penulis, pembaca sejarah).
2. Manusia sejak zaman kuno tidak pernah berhenti mengamati peristiwa sejarah yang terjadi di sekitarnya
3. Mereka merenungkan maknanya, mencari suatu hubungan yang bisa menguraikan geraknya, atau faktor-faktor  yang  membangkitkannya dan akibat-akibat yang dihasilkannya dari suatu kejadian sejarah
Catatan: Rasa ingin tahu dan kesadaran untuk mencari yang  dimiliki manusia, 
               merupakan musabab lahirnya  filsafat sejarah.


Munculnya Istilah Filsafat sejarah

        Ahli yang mula-mula menggunakan istilah filsafat sejarah ialah Francois Marie Arout Voltaire, pada tahun 1756 M.
        Voltaire lahir di Paris pada 21 November  1694 dan meninggal 30 Mei 1778 M.
        Voltaire adalah seorang ahli filsafat (filosof) dan pujangga tersohor dan sangat berpengaruh dalam masa pencerahan di Perancis pada abad ke-18.
        Sedangkan yang mempopulerkan istilah filsafat sejarah adalah seorang ahli yang bernama Herder.
        Herder  adalah orang pertama yang merumuskan ranah pembahasan dan permasalahan filsafat sejarah


Filsafat Sejarah & Teori Sejarah

        Menurut  J.M. Romein, seorang Guru Besar Sejarah di Universitas Amsterdam Negeri Belanda (1893-1962), bahwa antara Filsafat Sejarah dan Teori Sejarah menunjukkan perbedaan dalam bidang kajiannya.
        Filsafat Sejarah bertugas  antara lain; menyusun kembali kepingan-kepingan mengenai peristiwa masa silam. Sehingga masyarakat dapat mengenal kembali gambaran wajah peristiwa-peristiwa masa lampau tsb.
    Sebagai contoh dari pengertian di atas, bisa dilihat misalnya gambaran tentang revolusi Nasional Indonesia (1945-1949) yang ditulis sepenggal-sepenggal, dari sudut atau dimensi militer, ekonomi, politik, psikologis dll.
   Catatan: kondisi penulisan sejarah yang dipenggal-penggal itulah yang menuntut adanya keberadaan Filsafat Sejarah (FS). FS berusaha melihat kejadian masa silam dengan melalui multy dimencional approach, yang kemudian mengintegrasikannya dalam suatu sintesis yang padu.


Teori Sejarah

        Menurut J.M. Romein, bahwa  Teori Sejarah bertugas menyajikan teori-teori dan konsep-konsep, yang memungkinkan seseorang ahli sejarah (sejarawan) mengadakan interpretasi terhadap semua pandangan pragmatis mengenai masa silam.
        Bagaimanapun dalam praktek kajiannya, antara Filsafat Sejarah dan Teori Sejarah menunjukkan objek materi kajian yang sama. Dengan demikian, argument J.M. Romein mengenai perbedaan kajian antara filsafat sejarah dan teori sejarah, menurut para ahli dipandang tidak dapat dipertanggungjawabkan.


DEFINISI FILSAFAT SEJARAH

1.  W.H. Walsh:
     Filsafat Sejarah adalah sebagai suatu kajian yang mendalam mengenai sejarah, sehingga dapat diketahui segala yang berkaitan dengan sejarah tersebut.

2.  George Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831):
     Filsafat Sejarah berpangkal pada abstraksi-abstraksi yang menuju pada kenyataan historis yang konkret.

3.  Jacob Burckhardt (1818-1897):
     Beliau memaknakan filsafat sejarah semacam “mahluk banci” yang mampu memadukan di antara hal-hal yang tidak dapat dipersatukan. Hal ini dimaksudkan, karena filsafat sejarah berfungsi dan bertugas mematangkan kerja sejarawan serta eksistensi sejarah sendiri.

4.  Zainab al-Hudhairi:
     Filsafat Sejarah adalah sebagai tinjauan terhadap peristiwa-peristiwa historis secara  filosofis, untuk mengetahui faktor-faktor esensial yang mengendalikan perjalanan historis itu, untuk kemudian mengiikhtisarkan hukum-hukum umum yang tetap, yang mengarahkan pada perkembangan berbagai bangsa dan negara dalam berbagai masa dan generasi.

5. Rustam E. Tamburaka:
    Filsafat Sejarah adalah ilmu filsafat yang ingin memberi jawaban atas sebab dan alasan segala peristiwa sejarah.

        Jelasnya, filsafat sejarah adalah satu bagian filsafat yang ingin menyelidiki sebab-sebab terakhir dari suatu peristiwa, serta ingin memberikan jawaban atas sebab dan alasan-alasan segala peristiwa sejarah.
        Catatan:

    Dari lima (5) definisi filsafat sejarah yang dikemukakan para akhli tersebut di atas, yang betul-betul memadai dan terpilih, yaitu definisi yang dikemukakan oleh Zainab  al-Hudhairi


Evaluasi

1. bagaimana menganalisis secara filsafati, penelitian
       historis  yang telah dilakukan oleh ahli sejarah?
2. bagaimana mengihtisarkan hukum-hukum umum 
       yang tepat dalam historis tersebut?
        Catatan: pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan
                   ruang lingkup dari kajian filsafat sejarah.


Ruang Lingkup Pembahasan Filsafat Sejarah (FS)

        Ruang lingkup FS berupaya memaparkan dan menjelaskan pertanyaan-pertanyaan sbb:
1. apa yang melatarbelakangi, wujud peristiwa sejarah
          sebagai wujud dari peristiwa masa lalu?
2. apa faktor-faktor  esensial yang mengendalikan
          perjalanan historisitas itu, dari masa ke msa?
3. bagaimana hubungan satu peristiwa dengan
          peristiwa lainnya?


KEGUNAAN MEMPELAJARI FS:

1. Dengan berpegang dan mengkaji lebih jauh teori-teori dalam FS, maka kiranya FS dapat mempertajam kepekaan kritis seorang peneliti sejarah.

2.FS dengan sejumlah teori dan kerangka acuan  kajiannya, antara lain untuk menawarkan pengertian, mengenai untung dan ruginya berbagai pendekatan dalam penelitian tentang peristiwa kemanusiaan di masa lalu, yang dilakukan oleh sejarawan.

3. Dengan mempelajari filsafat sejarah, menjadikan peneliti sejarah lebih waspada terhadap pendapat-pendapat  yang keliru mengenai tugas dan tujuan pengkajian sejarah itu sendiri.

        Catatan:  menurut Nouruzzaman Shiddiqie, mempelajari filsafat sejarah lebih diartikan secara religius. Filsafat Sejarah memiliki kepentingan untuk mencipta hubungan vertikal antara manusia (pengkaji sejarah) dengan Khaliknya.


UNSUR-UNSUR  FS

        Menurut F.R. Ankersmit, ada tiga unsur FS sbb:
1. Historiografi, atau sejarah dari penulisan sejarah, yaitu pembahasan di seputar penelitian yang dilakukan filosof sejarah yang bersifat deskriptif. Kegiatannya antara lain menjawab pertanyaan:
    -apa yang ditulis oleh para ahli sejarah termasyhur,
      baik pada masa silam maupun masa kini?
    -bagaimana ciri karya sejarah pada umumnya?
    -adakah sejarawan dengan maksud tertentu dalam
      penulisannya?

2. Filsafat Sejarah Spekulatif, yaitu kajian di seputar dua makna kata sejarah itu sendiri. Kedua makna kata sejarah dimaksud, pertama sebagai proses historis; dan kedua sebagai penulisan proses historis menurut kaidah-kaidah ilmu sejarah.
   Catatan: Filosof sejarah spekulatif menerawang kerja ahli sejarah lebih jauh. Kalau ahli sej menerangkan dan melukiskan kejadian masa lalu apa adanya, sedangkan ahli filsuf sejarah mencari struktur dalam yang tersembunyi dalam proses historis.

3. Filsafat Sejarah Kritis, adalah unsur  yang memiliki lingkup kerja, yaitu, apabila seseorang berusaha meneliti sarana-sarana yang dipergunakan ahli sejarah, dalam menerangkan peristiwa masa lalu, dengan cara yang dapat dipertanggungjawabkan. Arena kerja filsuf sejarah kritis ini, dengan demikian, tidak terlepas dari karya sejarah yang telah diwujudkan oleh ahli sejarah.